Mengenali Perbedaan Rematik dan Asam Urat

By | 29 Januari 2020

Obat Asam UratTidak seluruh orang dapat mengenali perbedaan rematik dan asam urat. Banyak orang yang menyangka kalau dirinya mengalami rematik, padahal sebenarnya mengalami asam urat dan sebaliknya. Kedua situasi ini sebenarnya mirip, tapi tak sama.

Baik rematik maupun asam urat, dapat memicu rasa nyeri, bengkak dan kemerahan pada sendi. Kedua situasi ini termasuk dapat mengganggu kesibukan sehari-hari. Meski demikian, ada perbedaan rematik dan asam urat yang mutlak diketahui.

Mengenali Perbedaan Rematik dan Asam Urat

Rematik atau yang disebut sebagai rheumatoid arthritis adalah penyakit kronis yang menimbulkan rasa sakit akibat peradangan dan pembengkakan pada sendi. Sedangkan asam urat adalah radang sendi akut yang diakibatkan pengendapan asam urat pada sendi Anda.

Beragam Perbedaan Rematik dan Asam Urat
Secara klinis, perbedaan pada rematik dan asam urat adalah lokasi peradangan yang terjadi. Penyakit asam urat terjadi saat kandungan asam urat terlalu berlebih dan terkumpul di sendi, tulang dan jaringan tubuh. Nyeri pada asam urat kebanyakan nampak secara mendadak dan dirasakan pada jempol kaki, atau persendian kaki. Nyeri dapat dirasakan cuma di tidak benar satu kaki atau keduanya.

Sedangkan, rematik yang disebabkan oleh peradangan kronis kebanyakan memicu nyeri pada sendi-sendi di kedua sisi tubuh, diikuti kekakuan sendi. Rematik dapat disertai pembengkakan, merah, dan teraba panas pada tempat yang nyeri. Namun gejala berikut termasuk dapat ditemukan pada penderita asam urat.

Perbedaan lainnya berasal dari rematik dan asam urat, adalah:

Perbedaan penyebab
Rematik merupakan penyakit autoimun yang kebanyakan disebabkan oleh segi genetik. Sejauh ini pemicu timbulnya gejala rematik belum diketahui secara jelas, tapi dikira terjalin bersama infeksi virus dan tradisi merokok. Sedangkan asam urat seringkali disebabkan oleh terlampau banyak mengonsumsi makanan kaya purin, seperti daging, jeroan, ikan, kerang, roti gandum, dan sereal.

Perbedaan segi risiko
Rematik dapat menyerang kelompok usia muda maupun tua, tapi penyakit ini lebih banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun. Rematik termasuk lebih banyak ditemukan pada wanita dibanding pria. Sedangkan asam urat lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa muda bersama berat badan berlebih, dan lebih kerap terjadi pada pria. Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol atau makanan bersama pemanis tambahan termasuk dapat meningkatkan risiko terkena asam urat.

Baca Juga :

Bahaya Asam Urat jika Tidak Diobati

Perbedaan langkah pengobatan
Hingga sementara ini penyakit rematik belum dapat disembuhkan, tapi pengobatan rematik dapat membantu meredakan gejala. Obat-obatan seperti antirematik, antinyeri dan kortikosteroid kebanyakan dapat diberikan oleh dokter, tapi pengobatan berikut kudu disesuaikan bersama derajat rematik yang diderita.

Sedangkan pada asam urat, pengobatannya dapat bersama obat-obatan seperti colchicine, obat antiinflamasi nonsteroid, dan kortikosteroid. Untuk memelihara sehingga kandungan asam urat tidak terlampau tinggi, dokter termasuk dapat mengimbuhkan obat penurun asam urat seperti allopurinol, dan menyarankan Anda untuk menghambat asupan kaya purin dan alkohol.

Penyakit asam urat dan rematik kadang dapat mirip satu mirip lain, tapi pada dasarnya kedua situasi berikut disebabkan oleh perihal yang berbeda. Karena itu, untuk penanganan dan pengobatan yang tepat, sebaiknya konsultasi ke dokter.

Cara Mencegah Rematik dan Asam Urat
Secara umum, langkah menghindar rematik dan asam urat yang efektif adalah pergantian jenis hidup yang lebih sehat seperti teratur olahraga, berhenti merokok dan berhenti mengosumsi minuman beralkohol.

Obat-obatan khusus layaknya obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi atau gagal jantung sanggup mengakibatkan tingginya takaran asam urat.

Mosehat merupakan jamu tetes berkhasiat dengan segudang manfaat. Cara penggunaan mosehat adalah dengan cara diteteskan sebanyak 9-11 tetes kedalam 50 ml air kemudian diaduk lalu diminum. Adapun anjuran pemakaian adalah 2-3x sehari.

1. Memiliki Banyak Kandungan Nutrisi.

Daun kelor memiliki banyak kandungan nutrisi seperti vitamin, mineral, dan asam amino. Daun kelor banyak mengandung vitamin A, C, dan E. Tak hanya itu daun kelor juga memiliki kandungan kalsium, potasium, dan protein yang berguna bagi kesehatan tubuhmu.

Vitamin A yang ada di daun kelor sebanyak dua kali lipat lebih banyak dari pada wortel. Sedangkan kandungan kalsiumnya 14 kali lebih besar dari susu. Empat kali lebih besar dari pisang. Sungguh kaya akan kandungan vitamin dan zat baik!

2. Mampu Menangkal Radikal Bebas.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh US National Library of Medicine dari National Institutes of Health, daun kelor yang diolah menjadi sebuah minuman memiliki kandungan antioksidan. Antioksidan mampu melawan radikal bebas sehingga sangat dianjurkan untuk kamu yang ingin menjaga tubuh agar tetap sehat. Antioksidan banyak terkandung dalam bunga, daun, dan bibit tanaman kelor. Antioksidan yang terkandung dikenal dengan flavonoids, polyphenols, dan ascorbic acid.

3. Mampu Melawan Inflamasi dan Menurunkan Kadar Gula.

Inflamasi atau peradangan atau infeksi yang mampu menyebabkan penyakit seperti diabetes, jantung, obesitas, dan artritis. Daun Moringa atau Kelor bisa mengurangi kadar gula maupaun kolesterol dalam tubuhmu.

4. Mampu Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh Terutama Jantung.

Disinyalir daun kelor ini, Menurut Ahli kesehatan keluarga, dr. Ferihana, menuturkan daun kelor memiliki kandungan protein 30 kali lipat lebih banyak dibandingkan sayuran lain. “Maka itu daun kelor baik dikonsumsi untuk kesehatan. Terutama untuk menjaga kekebalan tubuh dari virus,” kata pemilik Dokter Muslimah Beuty Clinic (DMBC) itu menjelaskan.

5. Membantu Kesehatan Otak dan Hati.
Antioksidan yang terkandung dalam daun kelor ini sangat membantu untuk kesehatan otak. Antioksidan, vitamin E dan C mampu melawan penurunan fungsi neuron dalam otak. Jadinya, fungsi otakmu mampu bekerja maksimal.
6. Mengandung Antimicrobial dan Antibacterial.
Daun kelor memiliki kandungan antibakteri dan antijamur yang berfungsi untuk melawan infeksi yang terjadi pada tubuhmu. Daun kelor telah terbukti mampu melawan bakteri seperti infeksi kulit, saluran kemih, dan masalah pencernaan.
7. Mampu Mempercepat Penyembuhan Luka.
Daun kelor mampu membantu mempercepat waktu pembekuan luka. Dengan demikian, kamu bisa sembuh lebih cepat dari biasanya. Gak mau kan luka yang kamu punya lama sembuhnya, apalagi luka itu ada di tempat-tempat krusial, seperti : dengkul, sikut, dan lain-lain.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *